Saturday, 7 January 2017

MANUSIA DAN KEGELISAHAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada prinsipnya manusia merupakan makhluk yang diarahkan oleh motivasi dan cita-citanya. Hampir semua tingkah laku manusia dapat di pandang sebagai usaha untuk memuaskan hasrat biologis mereka. Tetapi tujuan itu sering sulit  atau bahkan kemungkinan kecil untuk dicapai. Kegelisahan disini diartikan suatu kondisi dimana orang menghadapi halangan dan rintangan dalam mengatasi rintanag tersebut. Pada hakekatnya kegelisahan menunjuk pada motivasi yang terhalang dan dalam keadaan tak terpuaskan.
Banyak orang berpikir bahwa kegelisahan merupakan keadaan yang tak ‘diingikan’. Tetapi para ahli jiwa berpikir bahwa kegelisahan merupakan kondisi hidup manusia, atau sebagai ‘kawan akrab’ yang memberi stimulus kepada tingkah laku manusia.  
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud kegelisahan?
2.      Apa yang di maksud keterasingan?
3.      Apa yang di maksud kesepian?
4.      Apa yang di maksud ketidakpastian?




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kegelisahan atau Kecemasan
Kegelisahan berasal dari kata gelisah. Gelisah artinya rasa tidak tenteram di hati atau merasa selau khawatir, tidak dapat tenang (tidurnya), tidak sabar lagi (menanti), cemas dan sebagainya. Kegelisahan artinya perasaan gelisah, khawatir, cemas atau takut dan jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut.[1]
Penyebab kegelisahan dapat pula dikatakan akibat mempunyai kemampuan untuk membaca dunia dan mengetahui misteri kehidupan. Kehidupan ini yang menyebabkan mereka menjadi gelisah. Mereka sendiri sering tidak tahu mengapa mereka gelisah, mereka hidupnya kosong dan tidak mempunyai arti. Orang yang tidak mempunyai dasar dalam menjalankan tugas (hidup), sering sitimpa kegelisahan murni, yaitu merasa gelisah tanpa mengetahui kegelisahannya, seolah-olah tanpa sebab.
Alasan mendasar mengapa manusia gelisah ialah karena manusia memiliki hati dan perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa keterasingan, kesepian dan ketidak pastian. Perasaan-perasaan semacam ini silih berganti dengan kebahagiaan, kegembiraan dalam kehidupan manusia. perasaan seseorang yang sedang gelisah ialah hatinya tidak tentram, merasa khawatir, cemas, takut, jijik, dan sebagainya.[2]
Dari sudut pandang psikologi, seperti dikemukakan oleh Sigmund Freud, kecemasan dipandang sebagai yanda bahaya. Freud mula-mula beranggapan bahwa kecemasan terjadi karena libido (dorongn seksual) terbendung karena depresi. Namun pandangan ini kemudian diubah. Katanya, ego bukan saja mengalami kecemasan, tetapi juga secara aktif dapat membangkitkan kecemasan agar mekanisme-mekanisme pertahanan dijalankan. Dengan perkataan lain, ego merupakan sumber kecemasan. Ego menimbulkan kecemasan agar manusia mengantisipasi datangnya bahaya. Tampak di sini bahwa Freud memandang kecemasan sebagai suatu rambu psikis yang membantu manusia untuk mempertahankan diri dari ancaman bahaya.[3] 
Menurut Sigmund Freud perasaan cemas ini dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu:
1.    Kecemasan kenyataan (objektif)
Kecemasan ini dikarenakan ada bahaya dari luar yang mengancam dan benar-benar dihadapi secara nyata. Misalnya: Seorang ibu gelisah karena anaknya diculik; seorang ibu gelisah karena anaknya sakit; seorang pelajar gelisah karena kartu ujiannya hilang dan seebagainya.
2.    Kecemasan neurotik (syaraf)
Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari nalurinya. Misalnya: Takut berada disuatu tempat yang terasa asing dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya; rasa takut yang irasional semacam fobia, gugup/gagap atau gemetaran.
3.      Kecemasan moral
Kecemasan ini muncul dari emosi diri sendiri yang memunculkan sifat iri, dengki, dendam, hasut, tamak, pemarah, rendah diri dan sebagainya. Dengan adanya sifat ini manusia cendenrung mengalami rasa khawatir, takut, cemas, atau bahkan putus asa setelah melihat keberhasilan orang lain.[4]
Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan segala sifat yang paling sempurna di antara makhluk yang ada di bumi ini, sifat itu adalah cipta, rasa, dan karsa. Tetapi dengan adanya sifat itulah manusia menjadi tamak, loba, kikir, iri, dengki dan sebagainya, apabila manusia tidak dapat mengatur, menguasai atau mengekang hawa nafsunya ataupun bertindak yang negatif.
Sifat tamak, kikir, iri, dan dengki adala sifat yang sangat tidak terpuji bai dihadapan sesama manusia apalagi di hadapan Tuhan pencipta alam dan isinya. Dengan adanya sifat ini manusia akan mengalami rasa khawatir, takut, cemas, bahkan putus asa.
Bagi manusia menyadari hal ini, perasaan tersebut di atas dipandangnya sebagai penyakit kejiwaan yang sangat tidak menyenangkan bagi manusia tersebut, sehingga dengan bekal kesadaran tersebut ia berusaha untuk mengeluarkan perasaan cemasnya dari dalam dirinya.[5]

B.     Keterasingan
Kata keterasingan berasal dari kata “terasing” dari kata dasar “asing”. Kata “asing” berarti sendiri, tidak dikenal orang. Adapun kata “terasing” mengandung arti tersisihkan dari pergaulan, terpisah dari yang lain dari yang lainnya, atau terperinci. Sedangkan kata “keterasingan” mengandung arti perihal yang berkenaan dengan ketersisihan dari pergaulan, terpencil atau terpisah dari yang lain.
Terasingan atau keterasingan adalah bagian dari hidup manusia. Keterasingan bisa terjadi karena sifat-sifatnya tidak dapat diterima, atau perbuatannya yang tidak bisa diterima. kedua sebab keterasingan tersebut bersumber dari:
1.      Perbuatan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat seperti mencuri, angkuh, keras kepala, sombong atau kaku.
2.      Sikap rendah diri seperti sikap merasa tidak berharga karena cacat fisik, kemampuan sosial-ekonomi yang rendah, pendidikan rendah, kesalahan perbuatannya.[6]
Cacat fisik sering menimbulkan keterasingan. Sikap seperti itu mestinya tidak perlu terjadi, karena cacat fisik bisa jadi merupakan kehendak Tuhan. Akan tetapi, jalan pikiran manusia bersikap lain. Ia merasa malu punya anak atau cucu yang cacat fisik, maka anak tersebut segera disingkirkan dari pegaulan.
Ekonomi kuat atau lemah adalah anugrah Tuhan. Orang tidak boleh membanggakan kekayaan. Tetapi orang tidak boleh pula merasa rendah diri karena keadaan ekonomi yang sangat rendah. Namun, dalam kenyataan sehari-hari orang lemah sering merasa rendah diri, akibat orang-orang yang kaya sering membanggakan kekayaannya.
Banyak juga orang yang merasa rendah diri karena rendah pendidikannya, berakibat kurang dapat mengikuti jaln pikiran oang yang berpendidikan tinggi dan banyk pengalaman. Dalam pergaulan orang-orang yang berpendidikan rendak dan kurang pengalaman biasanya menyendiri, mengasingkan diri karena serba sulit menempatkan diri.
Orang yang hidup dalam keterasingan bisa juga diakibatkan oleh pebuatannya sendiri, yang tidak bisa diterima oleh masyarakat dan linkungannya.[7]

C.    Kesepian
Kesepian berasal dari kata “sepi”, artinya sunyi, lengang, tidak ramai, tidak ada orang, tidak ada apa-apa, tidak banyak tamu, tidak banyak pembeli, dan sebagainya. Kesepian adalah keadaan sepi atau hal sepi.
Setiap orang pernah mengalami kesepian, karena kesepian bagian hidup manusia, lama atau sebentar perasaan kesepian ini bergantung kepada mental orang dan kasus penyebabnya.
Sebab-sebab terjadinya kesepian bermacam-macam. Frustrasi pun dapat mengakibatkan kesepian, yang bersangkutan tidak mau diganggu, ia lebih senang dalam keadaan sepi, tidak suka bargaul, dan sebagainya. Ia lebih senang hidup sendiri.
Kesepian itu juga akibat dari keterasingan dan keterasingan akibat sikap sombong, angkuh, kaku, keras kepala, sehingga dijauhi kawan-kawan sepergaulan. Karena kawan-kawan menjauhi, maka orang yang dijauhi atau orang yang bersikap sombong dan sebagainya itu hidup terasing, terpencil dari keramaian hidup sehingga akibatnya kesepian.
Hidup kesepian akibat takut kehilangan nama baik. Bahkan orang tak takut mati demi menjaga nama baik. Meskipun sudah berhati-hati menjaganya mungkin juga orang masih berbuat salah, sehingga tercemar nama baiknya. Untuk ini seringkali yang bersangkutan terpaksa hidup mengasingkan diri, akibatnya kesepian.[8]

D.    Ketidakpastian
Ketidakpastian berasal dari kata “tidak pasti”, artinya tidak menentu, pikiran kacau, tidak dapat berkonsentrasi, bingung, tidak dapat berpikir dengan baik atau resah. Ketidakpastian atau ketidaktentuan adalah bagian dari hidup manusia. Setiap orang hidup penah mengalaminya. Orang yang pikirannya tergantung tidak dapat lagi berpikir secara jernih, teratur, dan logis untuk mengambil kesimpulan.
Orang yang sedang kacau pikirannya tidak dapat mengambil kesimpulan secara jernih, karena dalam pikirannya ia selalu menerima rangsangan-rangsangan lain yang baru, sehingga pikirannya menjadi kacau. Meskipun ia dapat berpikir dengan baik, tetapi akan memakan waktu cukup lama dan sukar. Mereka menampakkan tanda-tanda obsesi phobis delusi, gerakan-gerakan gemetar, kehilangan pengertian (sparis), kehilangan kemampuan untuk menangkap sesuatu (agnesis).
Menurut Siti Meichati dalam bukunya  Kesehatan Mental ada beberapa sebab yang meyebabkan orang tidak dapat berpikir dengan pasti, yaitu:
1.      Obsesi
Obsesi merupakan gejala kejiwaan (neurose), yang berupa pikiran atau perasaan tertentu secara terus-menerus, biasanya berupa hal-hal yang tidak menyenangkan atau sebab-sebab yang tidak diketahui.
2.      Phobie
Phobie adalah rasa takut yang tidak terkendalikan (tidak normal)  terhadap sesuatu hal atau kejadian yang tidak diketahui sebabnya.
3.      Kompulasi
Kompulasi adalah keraguan-raguan yang amat sangat tentang apa yang telah dikerjakan, sehingga ada dorongan-dorongan yang secara tidak disadari menyeru untuk melakukan perbuatan-perbuatan serupa berulang-ulang.
4.      Histeria
Histeria adalah gejala kejiawaan yang disebabkan oleh tekanan mental, kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, tidak mampu menguasai diri atau tersugesti sikap orang lain.
5.      Delusi
Delusi adalah suatu sikap yang menunjukkan pikiran tidak beres karena berdasarkan suatu keyakinan palsu, tidak dapat memakai akal sehat, tidak ada dasar kenyataan, dan tidak sesuai dengan pengalaman.
6.      Halusinasi
Halusinasi adalah khayalan yang terjadi tanpa rangsangan pancaindera.[9]



BAB III
PENUTUP
Simpulan
Kegelisahan artinya perasaan gelisah, khawatir, cemas atau takut dan jijik. Alasan mendasar mengapa manusia gelisah ialah karena manusia memiliki hati dan perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa keterasingan, kesepian dan ketidak pastian.
Keterasingan berarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil, atau terpisah dari yang lain. Kesepian adalah keadaan sepi atau hal sepi. Sedangkan ketidakpastian artinya tidak menentu, pikiran kacau, tidak dapat berkonsentrasi, bingung, tidak dapat berpikir dengan baik atau resah.



DAFTAR PUSTAKA
Prasetya, Joko Tri. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta. 1998.
Suwarja. Manusia dan Fenomena. Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan bekerjasama dengan Pustaka Pelajar. 1999.
Mustopo, Muhammad Habib. Manusia dan Budaya Kumpulan Essay Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: Usaha Nasional. 1989.
Maran, Rafael raga. Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta. 2007.




[1] Joko Tri Prasetya, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), h. 197.
[2] Joko Tri Prasetya, Ilmu Budaya Dasar, h. 198.
[3] Rafael Raga Maran, Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 186.
[4] Sujarwa, Manusia dan Fenomena Budaya, (Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 1999), h. 120.
[5] Muhammad Habib Mustopo, Manusia dan Budaya Kumpulan Essay Ilmu Budaya Dasar, (Surabaya: Usaha Nasional, 1989), h. 216.
[6] Sujarwa, Manusia dan Fenomena Budaya, Op.Cit, h. 123.
[7] Sujarwa, Manusia dan Fenomena Budaya, h. 124.
[8] Joko Tri Prasetya, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), h. 210-212.
[9] Sujarwa, Manusia dan Fenomena Budaya, Op.Cit, h.127-129.

Friday, 6 January 2017

BUDAYA MENDORONG KEMAJUAN DAN KEMUNDURAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Indonesia mempunyai berbagai macam daerah yang masing-masing mempunyai berbagai macam kebudayaan yang dipadukan sehingga disebut sebgai budaya nasional. Kebiasaan bangsa merupakan gambaran dari bangsa itu dalam menghadapi kehidupannya. Kebudayaan menurut bahasa Belanda dan Inggris berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan.Dari sudut bahasa Indonesia yaitu bentuk jamak dari buddhi yang bararti budi atau akal.
Budaya  adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya, yang berarti daya dari budi, karena itu mereka membedakan budaya dengan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa. Kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut.Masyarakat yang dikelilingi oleh beberapa benda-benda dan merasakan kehampaan hidup dan kekosongan  jiwa akan makna-makna spiritualitas dan moralitas kemanusiaan.

 B. Rumusan Masalah.
1 Apa yang dimaksud dengan kebudayaan?
2. Apa yang menyebabkan budaya dapat berubah?
3.Apa saja yang mendorong kemajuan dalam budaya?

 C.  Tujuan Penulisan
1.Untuk menjelaskan pengertian kebudayaan.
2. Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan perubahan budaya.
3. Untuk mengetahui yang mendorong kemajuan budaya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Budaya Tinggi dan Budaya Maju
Budaya adalah cara manusia memberikan respons kepada lingkungannya agar bisa bertahan (surviving) dan menang (winning).  Budaya dapat menentukan kemajuan manusia dan mendorong kemajuan manusia. Jika budaya adalah sebuah strategi untuk bertahan dan menang, kita harus paham bahwa itu adalah takaran dasar untuk menilai tinggi-rendahnya suatu budaya. Dalam menghadapi tantangan budaya, budaya yang kita miliki cenderung memilih dua cara yang berbeda yaitu: membenci atau memusuhi dan mencintai habis-habisan. Aliran pertama ialah kelompok yang memuja-muja seni tradisi sebagai wujud nyata dari budaya tinggi. Aliran kedua ialah kelompok yang memperoleh pendidikan dan pembelajaran dari Barat dan menjadikannya sebagai kiblat.
Kedua cara di atas ialah kesalahan yang harus dihentikan. Diperlukan penyadaran bahwa budaya adalah strategi untuk hidup dan maju berkembang.  Budaya perlu kita jaga sebagai bagian dari kekayaan bangsa. Namun, saat ini kita harus lebih banyak membangun “budaya masa depan”. Mencintai budaya bangsa sendiri itu baik, tapi tidak boleh terlalu sehingga menjadikan kita terikat pada masa lalu. Kita harus bisa menerima budaya yang lain akan tetapi harus diseleksi lebih dulu.
Transformasi kultural pertama yang diperlukan ialah melihat rahasia keunggulan global.  Transformasi kedua ialah mempertahankan ketinggian budaya yang sudah dimiliki. Indonesia sudah memiliki “budaya tinggi” dan budaya tinggi harus dijaga terutama dalam bentuk kekayaan artefak budaya masa lalu untuk menjadi unsur pembeda bangsa Indonesia dengan bangsa lain.[1]

B. Nilai Budaya sebagai Pendorong Kemajuan
Kemiskinan melanda penduduk yang berbeda etnis, agama, dan pendidikan. Ini dapat dilihat dalam bentuk kampung kumuh dan permukiman liat diberbagai sudut kota. Dalam upaya memahami gejala kemiskinan, para ahli ilmu-ilmu sosial biasanya mengambil patokan pada pengalaman sejarah politik dan ekonomi suatu bangsa, seperti eksploitasi kolonial.

C. Kemajuan Budaya
Perkembangan ekspresi budaya bernorma positif akan mendapatkan perhatian yang lebih besar dari masyarakat, sehingga mendukung kemajuan budaya yang akan memiliki kesempatan berkembang yang lebih luas, dengan diperkecilnya perhatian masyarakat pada budaya negatif. Dengan keberadaan dominasi budaya Barat yang semakin merasuk ke dalam kebudayaan pribumi, bangsa Indonesia mau tidak mau menghadapi beberapa pilihan. [2]

D. Kemunduran Budaya
Kemajuan dan kemunduran suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh kemajuan dan kemunduran budaya. Kemunduran budaya bisa menjadi penghalang dan penghambat kemajuan bangsa.
Hilangnya disiplin sebagai budaya yang harusnya dimiliki terus menerus dalam kehidupan manusia Indonesia telah menyebabkan krisi ini tetap bertahan.  Kemunduran budaya bisa juga dilihat dari melemahnya rasa penghargaan rakyat Indonesia terhadap karya-karya tulis budaya literer.  Negara yang besar ialah yang masyarakatnya menyukai kebiasaan membaca dan menulis. Kebiasaan budaya baca dan tulis ini disebut budaya literer.
Ketidakproduktifan masyarakat Indonesia berhubungan dengan sejarahnya. Sebelum modernisasi masuk, budaya baca tulis belum lahir disebabkan rakyat saat itu hanya menerima dan memberi informasi dan pengetahuan berdasarkan dongeng-dongeng yang tersebar, yang melekat pada pemahaman yang membodohi rakyat dan menguntungkan para raja. Contoh kemunduran budaya lokal yaitu kasus budaya Jawa. Kemunduran kebudayaan Jawa mengakibatkan kemunduran negara Indonesia. Contoh kemunduran ialah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Pakaian ala Jawa diganti dengan pakaian ala Barat dan nama-nama Jawa dengan Ki dan Nyi mulai dihilangkan.[3]

E.  Budaya Sebagai Sarana Kemajuan dan Sebagai Ancaman Bagi Manusia
Pada abad ke-19 filsuf hegel membahas budaya sebagai keterasingan manusia dengan dirinya sendiri. Dalam berbudaya manusia tidak menerima begitu saja apa yang disediakan oleh alam, tetapi ia harus mengubahnya dengan mengembangkannya lebih lanjut. Dengan  berbuat demikian, akan terjadi jurang antara manusia dan dirinya. Itulah yang dimaksud dengan keterlepasan atau keterasingan yang menyebabkan terjadinya ketegangan yang terus menerus.
1. Budaya Membutuhkan Etika
Menurut Calvin, di dalam alam maupun budaya tersembunyilah bahaya, dalam menelaah alam dan budaya, manusia menemukan unsur dosa melihat di dalamnya. Calvin sendiri masih engakui bahwa seni itu penting bagi kehidupan manusia, tetapi penanganannya harus dilakukan secara sederhana saja.
Hoenderdaal menyimpulkan bahwa budaya merupakan bagian dari kehidupan manusia, baik sebagai hala yang berharga sehingga harus dikerjanya, maupun sebagai yang tak berharga sehingga harus dijauhi. Budaya harus kita dekati, tetapi jika gegabah memandangnya, hal itu akan mengancam kelestarian kita sendiri.[4]
2.  Produktivitas
Kemajuan teknologi merupakan salah satu sisi untuk meningkatkan produktivitas, sisi yang lain adalah penambahan modal dan tenaga kerja akan menambah kuantitas output produksi. Artinya, bila sejumlah modal atau tenaga kerja dilibatkan dalam proses suatu produksi, akan dihasilkan tambahan hasil produksi sejumlah tertentu.
Semakin banyak tenaga kerja yang dipergunakan, semakin meningkat pula produksi. Hanya saja apabila penggunaan tenaga telah mencapai puncaknya, dalam arti penambahan tenaga kerja sudah tidak efektif lagi, diperlukan penambahan modal.
Untuk menaikkan produktifitas barang modal adalah dengan menggunakan teknologi modern, dan untuk meningkatkan produktifitas sumber daya manusia adalah dengan pendidikan, latihan, serta alih teknologi. Banyak sekali sumber daya manusia yang tidak produktif hanya karena mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Untuk itu, pendidikan dan latihan yang berorientasi pada perwujudannya manusia mandiri sangat diperlukan.
3.  Kemiskinan
Kemiskinan sering diidentifikasikan dengan kekurangan, terutama kekurangan bahan pokok seperti pangan, sandang, papa. Kemiskinan bagaikan penyakit yang harus diberantas. Namun upaya memberantas tidak selalu membawa hasil karena masalah memang kompleks.Untuk mengatasi kemiskinan, paling tidak harus dilihat dari konteks masalahnya. Kemiskinan timbul dari beberapa faktor yang setiap faktornya memerlukan penanganan khusus.[5]
a.    Terbatasnya Sumber Daya Alam
Sumber daya alam pada hakikatnya adalah karunia Tuhan. Sumber daya alam adalah semua benda yang merupakan hadiah alam, baik yang dipergunakan dalam proses produksi. Sumber daya alam bukanlah pilihan atau buatan manusia tetapi sudah tersedia di bumi, dan manusia dapat mengambil manfaat darinya. Sumber daya alam masih memerlukan pengolahan yang baik. Pengolohan yang kurang baik, selain tidak dapat memberikan manfaat yang optimal, juga tidak dapat dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sumber daya alam  ini, ada yang dapat depertbaharui seperti kekayaan hutan yang berupa flora dan faunannya dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti bumi, emas, nikel, baja, dan sebagainya, sehingga untuk kelestariaanya sumber daya alam ini perlu adanaya keonverensi dan aturan untuk mengelola sumber daya alam ini.Pengelolaan yang baik akan memberikan kemakmuran, sedangkan kemakmuran merupakan ukuran tingkat kesejahteraan suatu bangsa.
b. Terbatasnya Sumber Daya Manusia
Bahwa sumber daya  alam tidak dengan sendirinya menjadi sediaan yang langsung bermanfaat untuk menutupi kebutuhan hidup manusia. Banyak sumber daya alam yang memerlukan pengolahan. Tentu dalam hal ini manusia sebagai subjeknya harus mampu mengolahnya. Sumber daya alam yang tidak pernah dijamah oleh manusia, selamanya tiak akan pernah memberi manfaat. Kelangkaan sumber daya manusia ini pada suatu daerah atau negera menyebebkan sumber daya alamnya tidak dapat dikelola dengan sempurna.
Di daerah atau negara yang sumber daya manuasianya sedikit walaupun kaya sumber daya alam, ia tetap tidak menikmati sumber daya alam itu. Sebagai contoh, daerah luar jawa yang tanahnya subur dan kaya akan sumber daya alam, tidak dapat menberikan mafaat yang optimal karena belum dikelola dengan baik. Untuk mengelola sumber daya alam itu, diperlukan tenaga manusia maka  dengan transmigrasi sumber daya alam itu dapat dikelola dan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.[6]
c. Terbatasnya barang Modal
Terbatasnya barang modal menyebabkan suatu bangsa tidak tepat berbuat banyak. Kalau suatu negara cukup kaya sumber daya alam dan cukup tersedia sumber daya manusia,  tetapi apabila tidak mempunyai barang modal, kekayaannya itu belum siap belum bisa diambil manfaatnyaBarang modal sebagai faktor produksi. Harus ada disamping sumber sumber daya alam dan sumber daya manusia. Hilangnya salah satu dari ketiga komponen itu mengebabkan tidak berjalannya produksi.
d. Rendahnya Produktivitas
Kemiskinan suatu negara dapat disebabkan oleh rendahnya produktivitas sumber daya manusia dan barang modal. Sumber daya manusia yang dimilikinya tidak mampu banyak berbuat untuk mengejar ketinggalanya dari negara maju, karena memang produktivitasnya sangat rendah. Bagitu juga kondisi barang modal yang dimiliki sangat sederhana sehingga produktifitasnya sangat rendah. Bagi negara yang produktivitas sumber daya manusia dan barang modalnya sangat rendah, tentu sulit untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan rakyatnya, sehingga ia selalu berada dalam kekurangan. Agar sumber daya alam itu tidak musnah seperti bahan tambang yang tidak diperbaharui, penggunaanya diataur pada batas-batas tertuntu agar tidak habis dalam waktu yang relatif singkat.
e. Rendahnya pendidikan
Sering kali kesejahteraan suatu bangsa diukur dengan tingkat pendidikan rakyatnya. Dinegara maju tingkat pendidikan rekyat cukup tinggi, sebaliknya dinegara miskin tingkat pendidikan rakyat sangat rendah.  Itulah sebabnya, sumber daya manusianya tidak mempungai keahlian atau keterampilan yang cukup berperan dalam pengembangan bangsanya. Usaha untuk meningkatkan keterampilan atau kecakapan rakyatnya melalui pendidikan, tidak akan pernah tersedia tenaga-tenaga trampil dan berkemampuan untuk menggerakkan bangsa dan negaranya.[7]

F.  Hal yang Menyebabkan Adanya Perubahan Budaya
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan polabudaya dalam suatu masyarakat.Faktor pendorong perubahan:
1. Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain
Bertemunya budaya yang berbeda menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun berbagai penemuan yang telah dihasilkan, baik dari budaya asli maupun budaya asing, dan bahkan hasil perpaduannya. Hal ini dapat mendorong terjadinya perubahan dan tentu akan memperkaya kebudayaan yang ada.[8]
2. Sistem pendidikan formal yang maju
Pendidikanmerupakan salah satu faktor yang bisa mengukur tingkat kemajuan sebuah masyarakat. Pendidikan telah membuka pikiran dan membiasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya memenuhi perkembangan zaman, dan perlu sebuah perubahan atau tidak.
3. Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju
Sebuah hasil karya bisa memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak karya. Orang yang berpikiran dan berkeinginan maju senantiasa termotivasi untuk mengembangkan diri.
4. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang
Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana, dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya. Untuk itu, toleransi dapat diberikan agar semakin tercipta hal-hal baru yang kreatif.
5. Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat
Open stratification atau sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atau horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para individu untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
6. Penduduk yang heterogen
Masyarakatheterogen dengan latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akan mudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial. Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat untuk mencapai keselarasan sosial.[9]
7. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu
Rasa tidak puas bisa menjadi sebab terjadinya perubahan. Ketidakpuasan menimbulkan reaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan berbagai gerakan revolusi untuk mengubahnya.


8. Orientasi ke masa depan
Kondisiyang senantiasa berubah merangsang orang mengikuti dan menyesuaikan dengan perubahan. Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan membuat masyarakat selalu berpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru.
9. Nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk perbaikan hidup
Usaha merupakan keharusan bagi manusia dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas. Usaha-usaha ini merupakan faktor terjadinya perubahan.[10]
Adapun Faktor Intern antara lain:
a.    Bertambah dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)
b.    Adanya Penemuan Baru:
1)      Discovery: penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada
2)      Invention : penyempurnaan penemuan baru
3)      Innovation /Inovasi: pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada.
Faktoreksternantara lain:
a.     Perubahan alam
b.    Peperangan
c.    Pengaruh kebudayaan lain melalui difusi(penyebaran kebudayaan), akulturasi ( pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi). [11]




BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Budaya dalam bangsa Indonesia memiliki beraneka ragam, budaya tersebut bisa mendorong terjadinya kemajuan dan menyebabkan kemiskinan. Budaya-budaya itu tidak hanya budaya asli Indonesia tetapi juga ada yang di pengaruhi oleh budaya yang datang dari luar.
Budaya-budaya yang datang dari luar perlu di pertimbangkan  sesuai dengan ajaran Islam. Budaya pada dasarnya tumbuh di masyarakat melalui interaksinya, komunikasi yang dilakukan, baik itu secara langsung ataupun tidak langsung.
B.     Saran
Demikian makalah Ilmu Budaya Dasar yang kami buat. Makalah ini bejumlah mencakup semua yang ada pada materi ini, tetapi kami berharap tetap ada manfaatnya. Akhirnya tegur sapa dan kritik yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan demi perbaikan, karena tidak ada manusia yang sempurna.

  
DAFTAR PUSTAKA

Wahyu, Ramdani.2008.Ilmu Budaya Dasar. Bandung: CV Pustaka Setia.

Mawardi. 2009. Ilmu Alamiah Dasar Ilmu Sosial Dasar Ilmu Budaya Dasar. Bandung: CV. Pustka Setia.

Muin,Dianto. 2006. Sosiologi. Jakarta:Erlangga.

Gazalba, Sidi.1966. Antropologi Budaya. Jakarta:Bulan Bintang.



[1]Ramdani Wahyu, Ilmu Budaya Dasar, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), hlm. 225.
[2]Ramdani Wahyu, Ilmu Budaya Dasar, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), hlm.245- 246.
[3]Ramdani Wahyu, Ilmu Budaya Dasar, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008),  hlm.228.
[4]Mawardi, Ilmu Alamiah Dasar Ilmu Sosial Dasar Ilmu Budaya Dasar, (Bandung: CV. Pustka Setia,2009), hlm.185.
[5]Mawardi, Ilmu Alamiah Dasar Ilmu Sosial Dasar Ilmu Budaya Dasar, (Bandung: CV. Pustka Setia,2009), hlm.187.
[6]Mawardi, Ilmu Alamiah Dasar Ilmu Sosial Dasar Ilmu Budaya Dasar, (Bandung: CV. Pustka Setia,2009), hlm.186.
[7]Mawardi, Ilmu Alamiah Dasar Ilmu Sosial Dasar Ilmu Budaya Dasar, (Bandung: CV. Pustka Setia,2009), hlm.189.
[8]Dianto Muin, Sosiologi,(Jakarta:Erlangga,2006), hlm.11.
[9] Dianto Muin, Sosiologi, (Jakarta: Erlangga,2006), hlm.12.
[10]Dianto Muin, Sosiologi, (Jakarta: Erlangga,2006), hlm.13.
[11]Sidi Gazalba,Antropologi Budaya,(Jakarta:Bulan Bintang,1966), hlm.130.