Sunday, 25 December 2016

KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM SASTRA, RUPA DAN LUKIS


https://ngelurukilmu.com


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dianugerahi pikiran dan naluri, memerlukan adanya wadah untuk menuangkan ekspresinya. Maka dari itu terciptalah seni, yang dikembangkan  dari tangan kreatif manusia, yang dapat kita nikmati keindahannya.
Dalam menuangkan perasaan biasanya seseorang mengekspresikannya dengan suatu tulisan , lukisan maupun seni lainnya yang di dalamnya menyiratkan perasaan pembuatnya untuk dirasakan oleh penikmat seni tersebut. Dalam memahami konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam kesusastraan, Seni Rupa dan Seni Lukis. Maka, kita perlu melakukan pendekatan , dalam artian menukil sedikit tentang apa itu kesusastraan?  Apa itu itu Seni Rupa dan Seni Lukis.
   B.  Rumusan Masalah
            1. Bagaimanakah pendekatan Kesusastraan?
            2. Bagaimanakah pendekatan Seni Rupa ?
            3. Bagaimanakah pendekatan Seni Lukis?
   C. Manfaat Penulisan
            1. Untuk memberi pengetahuan tentang kesusastraan.
            2. Untuk memberi pengetahuan tentang seni rupa.
            3. Untuk memberi pengetahuan tentang seni lukis.


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pendekatan Kesusastraan
1.      Pengertian Sastra
Sastra merupakan kata serapan dari bahasa sansakerta. Sastra yang berarti “ teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata  “sas” yang berarti “instruksi” atau “ajaran”.[1]
            Di indonesia, karya sastra yang bergaya romantik yang lebih mengutamakan pengorbanan perasaan daripada penalaran , pada umumnya pengarang – pengarang zaman Balai Pustaka (1920-1930) dan Pujangga Baru (1993-1943)`
Jika dibandingkan dengan karya tulis yang lain, sastra memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinilan, keartistikan, serta keindahan dalam isi dan pengucapannya.
2.      Aspek yang Harus ada dalam Sastra
Ada tiga aspek yang harus ada dalam sastra , yaitu ; keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Kalau ada sastra yang meengorbankan salah satu aspek ini, maka sastra tersebut di anggap kurang baik.[2]
3.      Jenis-jenis Sastra
Sastra terdiri atas tiga jenis, yaitu puisi, prosa, dan drama.
a.       Puisi
Puisi ialah jenis sastra yang bentuknya dipilih dan ditata dengan cermat hingga mampu mempertajam kesadaran orang akan suatu pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat bunyi, irama dan makna khusus.
b.      Prosa
Prosa adalah jenis tulisan  yang dibedakan dari puisi karena tidak terlalu terikat oleh irama, rima atau kemerduan bunyi. Bahasa prosa dekat dengan bahasa sehari-hari, biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide.. Yang termasuk prosa antara lain; cerpen , novel , essai dan lain sebagainya.
c.       Drama
Drama ialah jenis sastra dalam bentuk puisi atau prosa yang di tampilkan lewat lakon dan dialog.
4.      Ciri Sastra Yang Baik
Dalam memilih karya sastra sebagai bahan bacaan, tentu kita harus mengupayakan yang terbaik. Untuk itu, kita perlu mengetahui setidaknya tiga macam norma yang menjadi cirinya, yaitu norma estetika, sastra dan moral.
a         Norma Estetika
Suatu karya harusnya mampu menghidupkan pemikiran  pembacanya, menuntunnya melihat berbagai kenyataan kehidupan. Karya sastra itu mampu memperlihatkan peristiwa kebudayaan, sosial, atau keagamaan.
b        Norma Sastra
karya sastra itu membekali pembacanya dengan dengan pengetahuan yang mendalam tenntang kemanusiaan serta memperkaya wawasannya mengenai arti kehidupan ini. Selain itu karya tersebut juga senantiasa menarik bila dibaca kapan saja, dan menyuguhkan kesenangan dan kenikmatan.
c         Norma Moral
karya sastra disebut memiliki norma moral apabila menyajikan, mendukung,  dan menghargai nilai-nilai kehidupan yang berlaku.
5.      Hubungan antara Ilmu Budaya Dasar dengan Sastra
Hubungan sastra dan seni budaya dasar adalah hubungan yang sama-sama memiliki objek  yang sama yaitu manusia.mempelajari hubungan antarmanusia melalui suatu komunikasi yang beraneka ragam.
6.      Nilai Budaya Dasar Yang dihubungkan Dengan Prosa
Prosa adalah jenis tulisan  yang dibedakan dari puisi karena tidak terlalu terikat oleh irama, rima atau kemerduan bunyi.
a.       Prosa Lama
Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari kebudayaan barat. Bentuk prosa lama antara lain;
1)        Hikayat
2)        Kisah 
3)        Sejarah
4)        Dongeng
b.      Prosa Baru
Prosa baru merupakan karya sastra yang timbul setelah mendapat pengaruh budaya barat. Bentuk prosa baru antara lain;
1)        Roman
2)        Novel
3)        Cerpen
4)        Riwayat
5)        Kritik
6)        Resensi
7)        Esai
c.       Pengertian dan Nilai – nilai dalam prosa fiksi
prosa fiksi adalah prosa yang berupa cerita rekaan atau khayalan pengarangnya. Isi cerita tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta.[3]
Nilaiyang biasanya terkandung dalam prosa fiksi adalah
1)        prosa fiksi memberikan kesenangan
2)        prosa fiksi memberikan informasi
3)        prosa fiksi memberikan warisan kultural
4)        prosa fiksi memberikan keseimbangan wawasan

CONTOH KUTIPAN  PROSA
“Mengapa aku dirujuk kemari? Aku tak punya masalah,” kataku.
Wanita itu tidak beraksi. Hanya memberi isyarat agar aku mencopot sepatu dan duduk di sofa. Kantornya seperti kantor dekter-dokter lain, tapi tanpa bau dan rasa dingin, serta peralatan berbahaya yang biasanya ada.
Ia menungguku untuk bicara lagi. Aku ragu sejenak dan berkata lagi.
“Aku yakin orang datang ke mari dengan masalah besar yang tak terpecahkan. Setiap hari ada saja gadis yang memutuskan pacarnya. Bukan alasan untuk bertemu dokter gila, kan? Memangnya aku psycho?”
“Bukan, aku yang psycho. Tepatnya psychotherapist, pskiater. Kalau tidak keberatan, aku lebih suka disebut begitu daripada dokter gila,” katanya.
“Maaf,” kataku.
“Tidak apa-apa,” katanya  dan menyandar di kursinya. Usianya tidak lebih dari tiga puluh dan dia kelihatann muda untuk ukuran dokter gila, maaf , maksudku psikiater. Piaga dari unuversitas-universitas top di Amerika menghiasi dinding seperti kepala harimau di rumah pemburu. Ya , seorang lagi kaum India Selatan berhasil menaklukkan dunia akademis. Dr. Neeta Iyer, Mahasiswa Terbaik, Vassar Collage.[4]

B.  Pendekatan Seni Rupa
1.      Pengertian dan tujuan seni rupa
Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang ditangkap oleh mata dan dirasakan dengan rabaan. Seni rupa juga diartikan sebagai hasil ciptaan kualitas, hasil, ekspresi, atau alam keindahan atau segala hal yang melebihi keasliannya serta klasifikasi objek terhadap terhadap kriteria tertentu yang diciptakan menjadin suatustruktur sehingga dapat dinikmati menggunakan indera mata dan peraba.[5]
2.      Fungsi dan tujuan seni rupa
a.       Fungsi individu
                        Fungsi individu biasanya dikelompokkan dalam dua macam yaitu,
1)      Fungsi individu dalam pemenuhan kebutuhan fisik
2)      Fungsi individu dalam pemenuhan kebutuhan emosional
b.      Fungsi sosial
            Fungsi sosial yang dikelompokan menjadi empat macam
1)      Fungsi sosial seni dibidang rekreasi
2)      Fungsi sosial seni dibidang komunikasi
3)      Fungsi sosial dibidang pendidikan
4)      Fungsi sosial dibidang rohani
3.      Gaya dan corak seni rupa
Gaya dan corak senirupa dikelompokkan menjadi dua yaitu tradisional dan moderen
a.       Corak tradisional. corak tradisional dan modern pada dasarnya memiliki kesamaan. Perkembangan corak senirupa dipengaruhi oleh perkembangan kebudayaan. Pada awal perkembangan senirupa tradisional dikerjakan dengan menggunakan teknik yang masih sederhana pula
        Corak senirupa tradisional dibagi dalam dua kelompok yaitu corak primitif dan corak klasik.
1)   Corak primitif adalah memiliki sifat sederhana dalam hal bentuk dan warnanya
2)   Corak klasik adalah pada masa kerajaan hindu-budha berjaya di wilayah nusantara. Pada masa klasik ini merupakan masa peralhan dari masa seni rupa primitif menjadi senirupa yang bercorak rumit dan ornamental.

b.      Corak moderen memiliki karya seni rupa yang bercorak modern pula
1)      Refresentatif meliputi
a)      Realisme. Senirupa yang penggambarannyasesuai dengan kenyataan hidup.
b)      Naturalisme. Penggambaran alami sesuai dengan keadaan alam.
c)      Romantisme. Aliran yang penggambarannya mengandung cerita, baik binatang maupun manusia
2)      Gaya deformatif
a)      Impresionisme yaitu aliran seni rupa yang penggambarannya sesuai dengan kesan saat objek tersebut dilukis.
b)      Ekspresionisme, aliran seni rupa yang penggambarannya sesuai dengan keadaan jiwa pada saat melihat objek lukisannya
c)      Surealisme, aliran senirupa yang penggambarannya melebih-lebihkan kenyataan
d)      Kubisme, yaitu aliran senirupa yang penggambarannya berupa bidang segi empat atau bentuk dasar kubus
e)      Futurisme, aliran seni lukis yang berusaha menamoilkan kedinamisan dan berusaha mengutarakan gerak dan khayalan masa yang akan datang
f)       Dadaisme, yaitu aliran seni rupa yang penyajiannya dalam bentuk yang magic, seram dan mengerikan
3)      gaya abstraksionisme
adalah bentuk gaya yang sulit dikenang. Memiliki bentuk yang abstrak atau tifdak beraturan.


C.  Pendekatan Seni Lukis
1.      Pengertian Seni Lukis
Seni lukis adalah seni yang mengapresiasikan pengalaman artistik seorang seniman melalui bidang dua dimensi.
2.      Seni Lukis Menurut Zamannya
a.       Zaman Prasejarah
Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian –bagian penting dari kehidupan mereka. Sebuah lukisan atau gambar pada saat itu biasanya dibuat menggunakan materi yang sederhana seperti arang , kapur ,dan bahan lainnya.
Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang gua adalah menempelkan tangan pada dinding.
b.      Zaman Klasik
Di zaman ini lukisan dimaksudkan semirip mungkin dengan bentuk – bentuk yang ada di alam. Hal inni sebagai akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan dimulainya kesadaran bahwa seni lukis mampu berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam banyak hal.
c.       Seni Lukis Zaman Pertengahan
Lukisan pada zaman ini dipergunakan untuk alat propaganda dan religi. Kebanyakan lukisan pada zaman ini lebih berupa simbolisme.[6]
3.      Sejarah Seni Lukis di Indonesia
Secara tingkat perkembangan kesenirupaan , seni lukis di Indonesia meliputi
a.         Seni Lukis Zaman Prasejarah
Dibuat pada dinding gua, ditandai dengan menempelkan tangan  pada dinding gua, lalu disemprotkan dengan  kunyahan daun atau mineral berwarna.
Salah satu contoh terdapat pada gua leang-leang pattakere di maros, Sulawesi Selatan. Ada juga di dinding gua Di Pantai Selatan Irian Jaya (Papua).
b.        Seni lukis zaman Hindu Klasik Indonesia
Lukisan pada umumnya dibuat pada kain memanjang tnpa bingkai dan tampak seperti gulungan. Seperti juga pahatan dinding candi dan juga gambar lontar.
c.         Seni Lukis Islam Indonesia
Dalam hal ini toleransi islam mendukung proses kesinambungan tradisi seni rupa sebelumnya, tetapi dengan nafas baru, seperti hiasan dengan motif spilasi binatang dan manusia dipadukan dengan huruf  Arab, baik dalam penerapan elemen estetis pada mesjid, penggarapan seni kriya, lukisan atau kaligrafi.
Adapun pembuatan patung, dibuat demikian tersamar sehinnga seolah-olah gambar ini hanya berupa hiasan dedaunan atau flora.
d.        Seni Lukis Indonesia Baru
Perkembangan karya seni lukis indonesia dipengaruhi kuat oleh kekuatan sejarah hidup. Seni lukis indonesia baru berkembang setelah masa seni lukis Islam. Dan seni lukis pada masa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat seiring dengan perkembangan seni rupa Indonesia dimana tokohnya seperti Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdulah.[7]
4.      Aliran Seni Lukis
Seni lukis merupakan salah satu cabang dari senirupa. Senilukis yaitu seni yang mengapresiasikan kreatifitas seorang seniman melalui bidang dua dimensi, seperti kanvas, kertas, papan dan lain-lain.Seni lukis memiliki beragam aliran yang semakin hari semakin berkembang. Seni lukis biasanya di kelompokan menjadi 12 yaitu:
a.         Aliran realisme
Aliran Realisme yaitu aliran yang menampilkan karya lukis apa adanya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari.
b.        Aliran Surealisme,
 Aliran Surealisme yaitu aliran yang erat kaitannya dengan dunia fantasi, seolah – olah kita melukis dalam dunia mimpi.
c.         Aliran romantisme,
 Aliran Romantisme adalah aliran yang berusaha menampilkan suatu lukisan dengan fantastic dan indah.
d.        Aliran Naturalisme,
Aliran Naturalisme adalah aliran yang berusaha menampilkan suatu objek lukisan secara alami. Aliran naturalism ini memang mirip dengan realisme bedanyanaturalismememilikisuatutambahan agar menjadilebihindah.
e.         Aliran Impresionisme,
Aliran Impresionisme adalah seni yang berusaha menampilkan kesan yang ditangkap objek.
f.          Aliran Ekspresionisme,
Aliran Ekspresionisme adalah suatu aliran yang memberikan kebebasan distorsi bentuk dan warna untuk melahirkan emosi ataupun menyatakan sensasi dari dalam.
g.        Aliran Abstraksionisme,
 Aliran Abstraksionisme adalah aliran yang menggunakan  warna dan bentuk dalam cara non-representasional. Aliran ini dibedakan menjadi 2 yaitu abstrak kubistis dan non-figuratif.
h.        Aliran Kubisme,
Aliran Kubisme adalah aliran yang memiliki bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, silinder, bola, kerucut, kubusdankotak-kotak.
i.          Aliran Dadaisme
 Adalah aliran yang  menyajikan karya artistik dari bentuk yang seram, magic, terkadang mengesankan.
j.           Aliran Futurisme
Aliran Futurisme adalah aliran yang menggambarkan objek lukisan yang terlihat seperti bergerak.
k.         Aliran Fauvisme,
Aliran Fauvisme adalah aliran yang memberikan  kebebasan berekspresi, sehingga banyak objek lukisan yang dibuat kontras dengan aslinya.
l.           Aliran Klasikisme,
Aliran Klasikisme adalah aliran yang menampilkan gambar secara klasik, serta memiliki karakter dan cirita rsendiri. Aliran ini biasanya mengacu pada Yunani dan Romawi.[8]

BAB III
PENUTUP
 Kesimpulan
Sastra terdiri atas tiga jenis, yaitu puisi, prosa, dan drama.
Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk  karya seni dengan  media yang ditangkap oleh mata dan dirasakan dengan rabaan.
Seni lukis me rupakan salah satu cabang dari senirupa. Seni lukis yaitu seni yang mengapresiasikan kreatifitas seorang seniman melalui bidang duadimensi, sepertikanvas, kertas, papandll
Ilmu budaya Dasar adalah suatu ilmu yang mempelajari dasar kebudayaan, serta pengetahuan umum tentang konsep yang dikebangkan untuk mengkaji kehidupan manusia.Hubungan Ilmu budaya dasar dengan Kesusastraan sangat penting, karena Ilmu budaya dasar meliputi dalam hal bahasa. Bahasa erat kaitannya dengan dengan kegiatan manusia sehari – hari. Dengan bahasa, manusia bisa berkomunikasi satu sama lain, dan dengan adanya bahasa, manusia bisa bercerita pengalaman hidupnya yang dituturkan  melalui lisan ataupun tulisan . hal inilah yang berpengaruh terhadap Adanya hubungan antara sastra dengan Ilmu Budaya Dasar.

DAFTAR PUSTAKA
Sugono Dendy. 2011. Buku praktis Bahasa Indonesia Jilid I,Rawamangun, Jakarta Timur: Kemendikbud.
Mawardi. 2000. Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmubudaya Dasar(IAD-ISD-IDB).Bandung:Pustaka Setia,2000.
Baghat Chetan, penerjemah, marcalais Fransisca; penyunting, Ade Kumalasari. 2013 . ” 2 States The Story of My Marriage “  Yogyakarta: Bentang Pustaka.
http://www.bilvapedia.com/2013/08/sejarah-seni-lukis-indonesia_3602.html



[2]Dendy Sugono, Buku praktis Bahasa Indonesia Jilid I,Rawamangun, Jakarta Timur, Kemendikbud,2011.
[3]www.temukanpengertian.com/2015/09/pengertian-prosa-fiksi.html,diakses pada tanggal 14 september 2016          
[4]Chetan Baghat ; penerjemah, marcalais Fransisca; penyunting, Ade Kumalasari,” 2 States The Story of My Marriage “ Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2013, hlm.1-2
[6]https://id.m.wikipedia.org/wiki/Seni_lukis, diakses pada tanggal 15 September 2016
[7]http://www.bilvapedia.com/2013/08/sejarah-seni-lukis-indonesia_3602.html, diakses pada tanggal 15 September 2016
[8]http://www.bantubelajar.com/2015/01/macam-aliran-seni-lukis-ciri-dan-tokoh.html, diakses pada tanggal 15 September 2015

PLURALITAS SUKU, BANGSA, BUDAYA DAN INTEGRASI NASIONAL

https://ngelurukilmu.com

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Indonesia adalah Negara yang memiliki ratusan plural kebudayaan yang tersebar hampir diseluruh penjuru bangsa Indonesia. Dalam hal ini, kita akan membahas dan memahami adanya pluralitas budaya yang bermacam-macam. Namun yang harus kita ketahui, pluralitas kebudayaan juga terkadang menjadi konflik karena kesalahpahaman.Oleh sebab itu keutuhan bangsa harus tetap dijaga dan dibina dengan baik.
Dan juga kita sebagai bangsa Indonesia harus tahu lebih awal dampak positif ataupun negative dari keberagaman budaya di Indonesia. Kebudayaan merupakan sesuatu yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat-istiadat, kesanggupan, serta kebiyasaan lainnya yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

B.       Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, kita akan membahas masalah-masalah :
1.  Apa yang dimaksud dengan budaya?
2.  Apa yang dimaksud dengan system budaya dan pluralitas budaya ?
3.  Apakah dan bagaimana pluralitas budaya lokal itu sendiri ?
4.  Apa saja dampak positif dan negative pluralitas budaya ?

C.       Tujuan dan manfaat penulisan makalah
Dalam tujuan pembuatan makalah ini di maksudkan untuk memnjawab pokok permasalahan pada pembahasan rumusan masalah diatas agar kita tahu dan dapat mempelajari dengan mudah. Makalah ini juga bermanfaat bagi kita semua, karena dengan adanya makalah ini, kita semua dapat belajar bersama tentang topik makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN 
A.    Pengertian Budaya dan Pluralisme
1.      Pengertian  budaya
Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa, dan rasa.Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta budhayah yaitu bentuk jamak kata buddhi yang berarti budi atau akal.Dalam bahasa Inggris, kata budaya berasal dari kata culture, dalam bahasa Belanda diistilahkan dengan kata cultuur, dalam bahasa Latin, berasal dari kata colera.Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, mengembangkan tanah (bertani).
Kebudayaan (culture) adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk social yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya. Kebudayaan terdiri atas unsur-unsur universal, yaitu bahasa, teknologi, ystem ekonomi, organisasi social, ystem pengetahuan, religi, dan kesenian, dan mempunyai tiga wujud, yaitu ide, aktivitas, dan kebendaan yang masing-masing biasanya disebut ystem budaya atau adat istiadat, ystem social dan kebudayaan, kebendaan.[1]
2.      Pengertian Pluralisme
Pluralisme adalah suatu paham atau pandangan hidup yang mengakui dan menerima adanya “KEMAJEMUKAN” atau “KEANEKARAGAMAN” dalam suatu kelompok masyarakat. Kemajemukan dimaksud misalnya dilihat dari segi agama, suku, ras, adat-istiadat, dll. Segi-segi inilah yang biasanya menjadi dasar pembentukan aneka macam kelompok lebih kecil, terbatas dan khas, serta yang mencirikhaskan dan membedakan kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, dalam suatu kelompok masyarakat yang majemuk dan yang lebih besar atau lebih luas. Misalnya masyarakat Indonesia yang majemuk, yang terdiri dari pelbagai kelompok umat beragama, suku, dan ras, yang memiliki aneka macam budaya atau adat-istiadat. Begitu pula masyarakat Maluku yang majemuk, ataupun masyarakat Aru yang majemuk.
Menerima kemajemukan berarti menerima adanya perbedaan. Menerima perbedaan bukan berarti menyamaratakan, tetapi justeru mengakui bahwa ada hal atau ada hal-hal yang tidak sama. Menerima kemajemukan (misalnya dalam bidang agama) bukanlah berarti bahwa membuat “penggabungan gado-gado”, dimana kekhasan masing-masing terlebur atau hilang. Kemajemukan juga bukan berarti “tercampur baur” dalam satu “frame” atau “adonan”. Justeru di dalam pluralisme atau kemajemukan, kekhasan yang membedakan hal (agama) yang satu dengan yang lain tetap ada dan tetap dipertahankan.
Jadi pluralism berbeda dengan sinkritisme (penggabungan) dan assimilasi atau akulturasi (penyingkiran). Juga pluralisme tidak persis sama dengan inkulturasi, kendati di dalam pluralisme atau kemajemukan bisa terjadi inkulturasi dimana keaslian tetap dipertahankan.

Menurut Parsudi Suparlan, secara garis besar ada tiga macam kebudayaan dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, yaitu sebagai berikut:
a.         Kebudayaan nasional Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
b.        Kebudayaan suku bangsa, terwujud pada kebudayaan suku bangsa dan menjadi unsur pendukung bagi lestarinya kebudayaan suku bangsa tersebut.
c.         Kebudayaan umum lokal yang berfungsi dalam pergaulan umum (ekonomi, politik, social, dan emusional) yang berlaku dalam lokal-lokal di daerah.

3.      Pengertian Pluralitas Budaya
Pluralitas budaya sering disamakan dengan istilah multikulturalisme, dua istilah tersebut memang memiliki makna yang mirip.Akan tetapi, multikulturalisme merupakan paham atau ideology yang menganjurkan masyarakat untuk menerima dan menganggap keanekaragaman budaya adalah hal yang ada dalam suatu wilayah.Ada pula istilah pluralitas kebudayaan. Menurut Koentjaraningrat, pluralism kebudayaan adalah dua macam tradisi kebudayaan atau lebih yang  membagi masyarakat kedalam golongan sosial yang berbeda-beda.

Menurut E. B. Y. Tylor kebudayaan merupakan sesuatu yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum adat istiadat kesanggupan, serta kebiasaannya, maka dengan adanya pluralitas budaya dalam suatu negara diperlukan nilai dan norma budaya untuk mengatur unsur-unsur yang mencakup dalam kebudayaan tersebut.[2]

B.  Dasar Pluralisme (Penerimaan Kemajemukan)
1.  Dasar filosofis kemanusiaan
Penerimaan kemajemukan dalam paham pluralisme adalah sesuatu yangMutlak, tidak dapat ditawar-tawar. Hal ini merupakan konsekwensi dari kemanusiaan. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang mempunyai harkat dan martabat yang sama, mempunyai unsur-unsur essensial (inti sari) serta tujuan atau cita-cita hidup terdalam yang sama, yakni damai sejahtera lahir dan batin. Namun dari lain sisi, manusia berbeda satu sama lain, baik secara individual atau perorangan maupun komunal atau kelompok, dari segi eksistensi atau perwujudan/pengungkapan diri, tata hidup dan tujuan hidup.
Sedangkan secara faktual dan historis, manusia yang sama secara essensial dan berbeda secara eksistensial itu pada hakekatnya adalah makhluk sosial yang hidup bersama, saling membutuhkan, dan saling tergantung satu sama lain, baik secara perorangan/individual maupun secara kelompok/komunal. Oleh sebab itu suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kemajemukan harus diterima karena dan demi kemanusiaan. Pluralisme atau adanya dan penerimaan akan kemajemukan merupakan konsekwensi dari kemanusiaan.[3]

C. Dampak Positif Dan Negatif Pluralitas Budaya
1.  Dampak Negatif
Dampak negative dari pluralitas budaya di Indonesia , antara lain adanya sistem nilai dan orientasi relegi yang berbeda dapat memberikan konflik social antaretnis. Konflik social ini bukanlah bias berkembang menjadi konflik berdarah dalam skala yang luas dan dpat memakan  korban jiwa ataupun memakan korban harta benda. Misalnya, konflik di Kalimantan barat, Kalimantan tengah, Ambon, Maluku, atau Poso.
Selain itu juga karena sentimen kesukubangsaan seperti konflik yang ditujukan kepada orang Cina, sepertipada peristiwa kerusuhan 1998.Konflik terjadi karena perebutan sumber ekonomi yang sengaja diciptakan dngan melibatkan sentiment kesukubangsaan.Kehormatan yang dianggap sudah dirusak dapat membuat seseorang melakukan apasaja untuk membalas rasa sakit hatinya.

2.   Dampak Positif
Bahas lokal dapat memberikan tambahan istilah bagi bangsa Indonesia, kearifan budaya local dapat memperkaya strategi pembangunan sesuai lokasinya, atau teknologi tradisiaonal dapat menjadialternatif bagi pengembangan dan pemasyarakatan.
Dengan adanya pluralitas budaya, maka kita memahami perasaan kebersamaan. Adanya perbedaan tidak harus membuat masyarakat berpisah, justru itu menjadi hal yang dapat dijadikan dasar  untuk bersatu . Paham multikulturalisme merupakan antisifikasi terhadap bebbagai konflik social dengan latar belakang perbedaan budaya. Multikulturalisme lebih cenderung sebagai  paham atau ideology yang menganjurkan masyarakat untuk menerima dan menganggap perbedaan budaya adalah hal yang wajar didalam suatu wilayah. Multikulturalisme mengajarkan hidup ditengah-tengah perbedaan.[4]

D.  Integrasi Nasional
1. Pengertian Integritas Nasional
Integrasi nasional adalah usaha dan proses mempersatukan perbedaan perbedaan yang ada pada suatu negara sehingga terciptanya keserasian dan keselarasan secara nasional. Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar baik dari kebudayaan ataupun wilayahnya. Di satu sisi hal ini membawa dampak positif bagi bangsa karena kita bisa memanfaatkan kekayaan alam Indonesia secara bijak atau mengelola budaya budaya yang melimpah untuk kesejahteraan rakyat, namun selain menimbulkan sebuah keuntungan, hal ini juga akhirnya menimbulkan masalah yang baru. Kita ketahui dengan wilayah dan budaya yang melimpah itu akan menghasilkan karakter atau manusia manusia yang berbeda pula sehingga dapat mengancam keutuhan bangsa Indonesia.
Faktor-faktor pendorong integrasi nasional sebagai berikut:
a.   Faktor sejarah yang menimbulkan rasa senasib dan seperjuangan.
Keinginan untuk bersatu di kalangan bangsa Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
b.      Rasa cinta tanah air di kalangan bangsa Indonesia, sebagaimana dibuktikanperjuangan merebut, menegakkan, dan mengisi kemerdekaan.
c.       Rasa rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara, sebagaimana dibuktikan oleh banyak pahlawan bangsa yang gugur di medan perjuangan.
d.      Kesepakatan atau konsensus nasional dalam perwujudan Proklamasi Kemerdekaan, Pancasila dan UUD 1945, bendera Merah Putih, lagu kebangsaan  Indonesia Raya, bahasa kesatuan bahasa Indonesia.
                   Faktor-faktor penghambat integrasi nasional sebagai berikut:
a. Masyarakat Indonesia yang heterogen (beraneka ragam) dalam faktor-faktor kesukubangsaan dengan masing-masing kebudayaan daerahnya, bahasa daerah, agama yang dianut, ras dan sebagainya.
b. Wilayah negara yang begitu luas, terdiri atas ribuan kepulauan yang dikelilingi oleh lautan luas.
c. Besarnya kemungkinan ancaman, tantangan, hambatan dan gangguanyang merongrong keutuhan, kesatuan dan persatuan bangsa, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
d.  Masih besarnya ketimpangan dan ketidakmerataan pembangunan dan hasil-hasil pembangunan menimbulkan berbagai rasa tidak puas dan keputusasaan di masalah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan), gerakan separatisme dan kedaerahan, demonstrasi dan unjuk rasa.
e.  Adanya paham “etnosentrisme” di antara beberapa suku bangsa yang menonjolkan kelebihan-kelebihan budayanya dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain.[5]
  
  BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa, dan rasa.Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta budhayah yaitu bentuk jamak kata buddhi yang berarti budi atau akal.Dalam bahasa Inggris, kata budaya berasal dari kata culture, dalam bahasa Belanda diistilahkan dengan kata cultuur, dalam bahasa Latin, berasal dari kata colera.Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, mengembangkan tanah (bertani).
Pluralitas budaya sering disamakan dengan istilah multikulturalisme, dua istilah tersebut memang memiliki makna yang mirip. Akan tetapi, multikulturalisme merupakan paham atau ideology yang menganjurkan masyarakat untuk menerima dan menganggap keanekaragaman budaya adalah hal yang ada dalam suatu wilayah.Ada pula istilah pluralitas kebudayaan. Menurut Koentjaraningrat, pluralism kebudayaan adalah dua macam tradisi kebudayaan atau lebih yang  membagi masyarakat kedalam golongan sosial yang berbeda-beda. Integrasi nasional adalah usaha dan proses mempersatukan perbedaan perbedaan yang ada pada suatu negara sehingga terciptanya keserasian dan keselarasan secara nasional.


DAFTAR PUSTAKA
Nugroho, Tris Nubrata. 2006. Antropologi SMA Kelas IX. Bandung : Erlangga Regards.
Brata, Nugroho Trisu. 2007. Antropologi untuk SMA dan MA kelas XI. Jakarta: Erlangga Sistem.
Koentjaraningrat. 1989. Pengantar  Ilmu antropologi. Jakarta : Aksara Baru.
Nasikum. 2011. Sosial Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
http://www.surabayapagi.com/index.php?3b1ca0a43b79bdfd9f9305b812982962b714e6dc98abacf59868c27dc717d




[1]Nugroho, 2006, Antropologi SMA Kelas IX, (Bandung: Erlangga Regards). hlm. 3

[2]Trisu Nugroho, 2007, Antropologi untuk SMA dan MA kelas XI, (Jakarta: PT Erlangga Sistem). hlm.5

[3]Koentjaraningrat, 1989, Pengantar  Ilmu Antropologi, (Jakarta : PT. Aksara Baru). hlm.12

[4]Nasikum, 2011, Sosial Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers).hlm.17